Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Cerpen. Tampilkan semua postingan

PARADIGMA

PARADIGMA

Hari yang dingin di temani butiran salju lembut. Udara dingin seakan menggit kulit bahkan tembus sampai sumsum tulang. Kulihat termometer menunjukan suhu di bawah minus rata-rata. Sungguh sebuah fenomena alam yang sangat luar biasa di musim dingin. Kuberjalan mendekati jendela apartement dan kuusap embun yang menghalangi pandangan. Di kejauhan terlihat sebuah bayangan hitam menjulang tinggi. Seakan seseorang yang menujuk sesuatu di langit. Lebih pastinya seperti orang yang terkena encok pada usia minimal kepala tiga. Kupandangi lekat-lekat benda itu, ternyata itu sebuah patung Liberty. Yang merupakan simbol kebebasan di negeri paman sam. Sebuah negara yang menjunjung tinggi kebebasan atas nama hak asasi manusia. Hendry . seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menyelesaikan paska sarjananya di New York Univesity. Tinggal menunggu beberapa purnama lagi ia akan merampungkan tesisnya tentang Economic Scientis yang berkiblat pada madzhab Adam Smith. Sungguh sebuah perhelatan akbar bertarung mati-matian melawan para profesor untuk mempertahankan argumennya.
Tak lama kemudian matanya ia arahkan pada jalan depan apartemen yang telah putih tertutup salju. Tiba-tiba ia menemukan seorang anak kecil duduk mematung di bawah pohon cemara. Tangannya ia lingkarkan menutupi perutnya bak seorang model iklan Promag yang terserang penyakit mag kronis. Sungguh amat di buat-buat. Kupandangi lekat-lekat anak itu. Sel sensorik saraf penglihatanku menyampaikan data-data akurat pada otak dan menimbulkan banyak pertanyaan bergentayangan di kepala. Apa yang terjadi pada dia ? apa dia sudah gila !!, di saat musim dingin seperti ini ia malah nongkrong di pinggir jalan bak sorang penjual sayur di pasar minggu. Tapi naluri kebapaanku muncul dan mengajakku untuk menjadi seorang pangeran kuda putih yang menyelamatkan sang Snow White.
Kulangkahkan kaki menuju lantai bawah dan membuka pintu depan. Udara dingin menyerangku dari depan seakan kumelihat pasukan Sholahudin menyerang Alexius I dalam perang salib. Mereka menggigit tubuhku dari berbagai arah. Tanpa terasa tubuhku bergetar menahan dingin musim salju. Kulangkahkan kaki ke depan apartement menuju anak itu. Kupandangi wajah anak itu, begitu lugu dan masih sangat muda. Gigi kecilnya bergemerutu seperti mesintik di kantor sensus penduduk tahun 70-an. Rambutnya pirang di hinggapi salju putih. Dari pakaiannya ia terlihat baru pulang dari sekolah. Sungguh malang nasib anak ini. Ingin kutahu seperti apa sih orang tuanya, hingga tega meninggalkan anaknya di musim dingin yang ganas ini.

” Hi... what are you doing here...?”
“ What… ! Who are you….? And what do you want here?”

Dia menjawab pertanyaanku dengan sinis, tak jauh beda dengan pemain antagonis dalam film Siti Nurbaya. Tanpa kusadari naluri kebapaanku yang mengidamkan pangeran kuda putih, berubah menjadi monster power ranger yang siap menculik anak-anak kota. Kukerahkan seluruh kanuragan untuk membantah paradigma kotor orang amerika tentang orang asing.

“Ok… nevermind. Aku tak akan mengganggumu. Aku hanya kasihan melihatmu kedinginan. Btw di mana apartemenmu ?”
“Apartemenku di sebrang sana dan aku tidak bisa masuk karena piintunya di kunci oleh ayahku. Kayaknya kamu bukan orang asli Amerika ?”
“ Ya… aku orang Indonesia.”
“ Are you Indonesian.?”
“ Yes…”
“Are you muslim ?”
“Yes. I am a muslim.”

Dengan senang kujawab pertanyaannya dan bangga bahwa aku berkebangsaan Indonesia. Sebuah Negara dengan KTP berinisial agama islam terbanyak di dunia. Namun dibuat pusing hanya untuk mengesahkan RUU Pornografi yang sekarang entah menjadi apa statusnya. Tapi raut mukaku bertolak belakang dengan wajah anak itu. Kupandangi kedua retinanya. Seakan kumelihat tragedi 11 September yang menelan dua gedung pencakar langit WTC dan Pentagon. Terlihat jelas dua kapal terbang menabrak gedung itu diiringi gemuruh orang-orang berlarian menyelamatkan diri mereka masing-masing. Kukembali dihantui Crusade fersi Amerika dan membawaku keluar dari retinanya. Tak lama kemudian dia menanyakan banyak hal tentang islam. Banyak asumsinya yang memandang islam dari berbagai segi dengan bermacam pertanyaan menghujamku dari mulut mungilnya. Kujawab semua pertanyaannya dengan lembut dan mencoba untuk memahamkan islam dengan benar. Secara tidak langsung, aku menjadi terasa lebih akrab dengannya. Ternyata anak itu bernama Michael. Kuajak dia ke apartemenku sekedar untuk menunggu ayahnya datang.
Kubuka pintu apartemen dan kuajak dia ke ruang tengah. Kunyalakan Televisi serta kusiapkan susu hangat dan beberapa potong roti. Dia tampak lebih bahagia dari sebelumnya. Dalam sekejap roti itu telah habis dilahapnya. Kukembali berbincang dengannya. Banyak cerita yang ia sampaikan. Ternyata Michael pindahan baru di kota ini. Ia sekolah di elementari school dan selalu diganggu oleh kaka kelasnya yang lebih senior. Ia selalu sendirian karena apabila ada orang yang mendekati Michael. Kaka kelasnya langsung memberinya pelajaran pada orang itu, sehinga tidak ada orang yang mau berteman dengan michael. Ayahnya seorang penjaga pintu di sebuah Club malam. Terbayang olehku film jin dan jun, mungkin ayahnya seperti om jin atau si kentung dalam film tuyul dan mbak yul. Sungguh seorang yang over size. Tak lama kemudian dia ingin pulang dan kuantarkan dia sampai pintu depan. Kukembali ke ruang tengah dan melihat anak itu bersama ayahnya. Namun apa yang terjadi. Sebuah fenomena orang amerika terjadi di TKP. Ayahnya menyuruh Michael membuka celananya.Terlihat bercak merah di beberapa daerah sensitifnya. Mata ayahnya melihat apartemenku dengan tajam seperti Hitler melihat rumah seorang yahudi.
Tiba-tiba bel apartemenku berbunyi diiringi pukulan keras seperti bedug idul fitri. Dengan cepat kubuka pintu depan. Sebuah sosok tinggi besar dengan jenggot lebat. Lebih dari sekedar om jin atau si kentung dalam film tuyul dan mbak yul. Tepatnya ia seperti jin teko mas ajaib dalam film Aladin. Benar-benar most over size. Tanpa basa basi ia langsung nyerocos bagai orang kebakaran jenggot. Ia menghujamiku dengan pertanyaan yang menggelitik syaraf adrenalin seputar anaknya. Diantara seribu pertanyaan bertenaga NOS dengan computer dasboard-nya seakan pertanyaan itu tak akan meleset dari jalurnya apalagi macet. Kutercengang bahwa aku dituduh telah melakukan tindakan asusila pada anaknya. Dengan cara membawa anaknya masuk ke apartemenku. Dengan barang bukti berupa bercak merah di sejumlah daerah sensitif.
Tanpa memberikanku kesempatan untuk membela diri. Ia langsung memberiku dua opsi pilihan. Pertama. Ia akan membawaku lewat jalur hukum atas tuduhan asusila. Kedua. Ia akan membatalkan niat pertamanya dengan syarat aku harus membayarnya sebesar $3000 dolar. Kuterpaku mencerna perkatanya. Mulutnya bagai lubang hujan langit diiringi petir menggelegar dan angin puting beliung yang siap menobok-obok fikiranku. Ya Allah... begitu besar cobaan yang engkau berikan kepadaku. Jangankan $ 3000 dolar . Sebulan saja aku cuman di kirim $ 500 dolar dan terasa begitu empot-empotan. Itu juga buat biaya listrik, sewa apartement, uang makan dan uang sekolah, belum lagi ada kebutuhan tak terduga. Apalagi $3000 dolar, bisa-bisa puasa enam bulan tanpa buka dan saur. Tepatnya ini sebuah pembunuhan secara perlahan. Begitu mengerikan.
Ia kembali menggertak. Menarik kerah bajuku dan membawaku keluar dari alam bawah sadar. Dalam sekejap ia telah mengembalikan kesadaranku. Ia langsung nyerocos lagi menanyakan opsi yang telah ia tawarkan. Karena tak mau menuggu lama jawabanku jin aladi itu langsung menarik lengan bajuku bak bu kos mengeluarkan mahasiswa Indonesia yang telah menunggak lebih dari sewindu.
Perjalanan hidupku semakin berat setelah aku dibawa ke kantor polisi. Dan Michael di bawa ke rumah sakit terdekat untuk di menjalani pemeriksaan. Di sana kudibawa ke ruang interogasi yang berukuran empat kali empat meter. Aku duduk di sebuah kursi besi dengan tangan terborgol. Sebuah lampu jalan tergantung tepat di atas kepalaku. Tak lama kemudian datang seorang sherif bertubuh besar dan berjenggot panjang. Kutercengang melihatnya. Ia tak ayal seperti om jin yang telah ber-jogres dengan si kentung. Lebih besar dan menyeramkan dari standar pemain antagonis indonesia. Cukup sendirian ia menginterogasiku dan aku langsung mati kutu di buatnya.

” Hai anak muda siapa namamu ?”
” Namaku Hendry.”
” Apakah kau orang Indonesia ?”
” Ya... aku orang Indonesia.”
” Apakah kamu Muslim?”

Aku tertegun tanpa jawaban. Aku merasa posisiku sudah diambang pintu kehancuran. Dalam benaku, orang Amerika adalah orang yang sangat membenci sekali orang muslim. Dan saya kira dia sudah tahu jawabannya. Indonesia adalah negara muslim terbanyak di Dunia. Namun apa yang terjadi, dia malah membalikan wajahnya tanpa menyentuhku sedikitpun. Cuman gertakan sebelumya yang membuat jantungku berdetak lebih kencang.

”Hai .. anak muda. Apakah kamu melakukannya ?”
”Melakukan apa ?”
”Jangan belagak goblok.! Saya tahu kamu seorang mahasiswa yang berpendidikan tinggi, dan kamu pasti faham maksud saya ?”
”Demi Allah.... ”
” Keparat...! Jangan bawa-bawa nama tuhan.”
Dengan sengaja si kentung ini memotong perkataanku. Tangannya ia ayunkan ke samping telinga berancang-ancang untuk memukul. Tiba-tiba seorang petugas masuk dengan membawa sebuah map di tangannya. Si kentung itu mengambil map dan membacanya. Sebuah kesyukuran kupanjatkan kepada Allah. Karena ia tak jadi memukulku. Seandainya si kentung itu jadi memukulku. Aku pasti kalap di buatnya.

"Baiklah anak muda, sekarang kau bebas dari segala tuduhan yang menimpamu. Namun, setelah ini kutunggu kau di ruang kerjaku !"

Dia pergi meninggalkan ruang introgasi. Kulihat punggungnya semakin jauh dan hilang di telan jeruji besi. Semakin lama ia pergi, semakin sesak kepalaku di penuhi pertanyaan membingungkan. Kutimggalkan ruang introgasi dengan segala kepenatan yang ada. Terlihat sebuah pintu putih setengah kaca tertutup gorden hijau. Tak jauh dari lubang fentilasinya tertulis " Sherif A. Fedric ". Kuketuk pintunya tiga kali. Tak lama kemudian terdengar jawaban menyuruhku masuk. Terlihat sebuah ruangan kerja yang lain dari ruang kerja biasanya. Entah kenapa suasana ketenangan begitu terasa. Ia keluar dari ruang dalam dengan membawa dua cangkir kopi hangat. Aku yakin sherif ini punya niat lain di balik segala kebaikannya. Kebanyakan orang amerika sangat benci bahkan anti terhadap islam. Sedang aku seorang pengembara dari negri jauh yang terkenal dengan mayoritas pemeluk islam terbanyak di dunia. Aku merasa kehidupan untuk menyelesaikan study-ku akan terasa lebih susah dan mengerikan. Tak lama kemudian sherif itu mendekatiku dan menyimpan secangkir kopi hangat di depan mejaku. Apakah kamu tahu kawan apa yang ia lakukan selanjutnya ?

" Assalamu akaikum wahai saudaraku......"

Subhanallah..... ia seorang muslim. Sungguh aku tak percaya di buatnya. Ia menghampiri dan memeluku erat. Ya Allah begitu besar rahmat yang engkau berikan kepadaku. Aku tak kuasa menahan rasa haru, sedih dan bahagia yang bercampur menjadi satu dalam dada. Tak terasa air mataku mengalir membasahi pipi. Baru kali ini aku merasakan indahnya nikmat islam yang begitu manis. Setelah bergulat dengan kemelut kehidupan yang begitu kejam. Merana dalam kelam, terseok api fitnah hingga membawaku terdampar di pulau mutiara.
Tak lama kemudian kami berdua berbincang-bincang banyak hal, baik mengenai cara hidup di Amerika maupun tentang islam menurut pandangan orang Amerika. Ternyata mereka lebih tahu banyak hal tentang islam. Kini aku sadar selama ini aku masih bodoh dalam memahami islam. Aku malu sebagai orang muslim yang tidak tahu hakekat keislamanku.
Tak lama kemudian ada seorang petugas membawa sebuah map hijau bersama ayah Michael. Terus terang aku terperanjat di buatnya. Mengapa dia datang lagi ? apakah masalah ini belum selesai ? Ya Allah... cobaan apa lagi yang akan engkau berikan kepadaku. Petugas itu berbincang sebentar dengan sherif. Beberapa menit kemudian sherif menatapku dan ayah Michael.

" Wahai saudaraku.. Allah telah memberikan rahmatnya kepadamu untuk kesekian kalinya. Sekarang engakau di beri dua pilihan. Pertama engkau diberi pilihan untuk menuntut balik atas tuduhan yang telah menimpamu. Kedua. Engkau memilih sejumlah uang sebagai ganti atas tuduhan itu ?"
" Wahai sherif saudaraku... islam mengajarkan untuk tidak menyimpan dendam kepada siapapun. Baik sesama muslim maupun non muslim. Aku ikhlas menerima cobaan ini. Aku yakin di balik semua ini Allah telah memberikan pelajaran dan rahmatnya kepadaku. Biarlah uang itu untuk biaya Michael anaknya agar ia tidak kedinginan menuggu ayahnya pulang kerja."
" Wahai anak muda... ternyata islam begitu indah dan damai. Selama ini dalam pandanganku islam begitu gelap dan identik dengan teroris. Banyak kaum barat menganggap islam sebagai agama extrim yang keras. Namun kini engkau telah membukaan paradigma tentang islam kepadaku. Engaku telah memahamkanku sekaligus mengajariku tanpa kata. Kau telah mengajariku dengan fakta yang nyata. Sungguh aku begitu kagum dengan pribadi-pribadi islam yang benar. Jika aku jadi kau dan kau dalam posisi seperti aku. Mana mungkin seorang sepertiku akan memaafkan kesalahanmu. Namun islam telah mengajarkanku cinta dan kasih sayang. Dan sekarang izinkanlah aku untuk mengucapkan dua kalimat syahadat di depan kalian berdua. Ashadu anlaa ilaha ila allah wa asyhaadu anna muhammadan rasulullah."




Writen By

PARAGON GENERATIONS

JADIKANLAH AKU BATU

JADIKANLAH AKU BATU

September kelabu, merupakan sebuah bulan dari rentetannya dua belas. Hujan rintik-rintijk di temani awan mendung mengingatkanku pada seseorang yang sangat aku tunggu. Tahukah engkau kawan siapa dia ? seseorang yang saya pandang sebagai orang tercantik di dunia. Dia adalah ibuku. Sunarmi, seorang ibu yang sekarang jauh di negri orang. Negri yang menyandang gelar sebagai negri penguasa OPEC. Namun sayang ibuku bukan orang yang terlalu penting di negri ini. Tetapi saya yakin seandainya pekerjaan seperti ibuku tidak ada, apalagi kalau demo besar-besaran. Orang-orang arab ini pasti akan keteteran mengurus keluarganya. Pekerjaan ibuku adalah sebagai Service Home Work atau lebih akrab disebut sebagai pembantu rumah tangga. Ya.. sebuah pekerjaan yang sangat tren di Indonesia. Hampir setiap tahun jumlah profesi ini menunjukan tingkat prestasinya yang tajam. Dan telah menyandang gelar Excelent dikomunitasnya. Orang-orang memanggilku Abdullah Einsten, karena aku selalu menyandang peringkat pertama di sekolah. Padahal aku rasa selama ini aku tidak pernah belajar, kerjaanku tiap pagi bantu nenek membuat kue, siang jualan Koran di terminal dan kalau malam aku memijat kakek yang kecapean pulang dari ladang. Memang keluargaku telah lama mendapatkan warisan kemelaratan dari sang leluhur, dan tidak dapat dielakan walaupun seluruh keluargaku mandi tujuh bunga di tujuh sumur belanda, warisan ini tak pernah lari walaupun satu jengkal dari keluargaku. Ayahku telah lama meninggalkanku setelah tahu masalah ini. Ia lari dengan janda kembang kecubung, walaupun umurnya sudah kepala enam, perawan tua ini belum punya suami baru. Dan malangnya, Ayahkulah menjadi pengisap bunga kecubung itu karena hartanya yang melimpah.
Rutinitas kehidupanku kujalani dengan semangat dan penuh optimis. Di samping aku mempunyai otak yang lumayan sukses bagi standar orang Indonesia, aku juga punya banyak Network dari teman seproefsiku yaitu tukang Koran. Jangan khawatir dulu kawan, walaupun tukang Koran jalanan, kalau ibuku sudah datang dari arab, aku pasti jadi bos Koran malah bisa jadi punya pabrik Koran, karena uang ibuku.
Dan hari yang kutunggu pun datang. Aku menerima surat dari ibuku, ia mengabarkanku akan datang bulan depan. Sungguh senag hatiku, telah lama aku menuggu saat-saat seperti ini,. Hampir satu windu aku menunggunya. Telah tampak jelas di benaku sebuah pabrik Koran dengan jumlah karyawan lusinan dan mempunyai agen di mana-mana. Entah kenapa yang terbesit bukan wajah ibuku, namun sebuah pabrik Koran yang sukses besar. Sungguh sebuah euforia yang menggelitik. Kujalani sisa hari kesendirianku tanpa seorang ibu dan sebagai loper Koran. Semua persiapan untuk menyambut ibuku berlangsung sempurna. Mulai dari membersihkan kamar, mengundang teman-teman, sampai membetulkan genting yang bocor, agar ibuku tak repot menyiapkan baskom di saat hujan lebat.
Satu oktober, sebuah tanggal sakral dalam perjalanan hidupku. Aku akan menemui ibuku dan mengakhiri warisan kemelaratan ini. Semua undangan telah kusebarkan dan sebagian dari mereka telah berkumpul di pekarangan rumah. Mentari cerah telah terbit setinggi ujung tombak. Menandakan sang dewi fortuna berada di pihakku. Aku dan teman-teman memperhatikan setiap mobil bis yang berhenti di depan jalan. Walaupun hanya untuk menarik muatan. Dan kami pun serentak berdiri ketika ada yang turun dari sebuah bis yang berhenti tepat di depan kami. Seorang wanita turun dengan membawa dua buah kantong besar. Kuperhatikan setiap inci wanita itu dan kusamakan dengan ciri pada tubuh ibuku. Namun hanya tidak kurang dari dua puluh persen persamaan itu terlihat. Ataukah terlalu lama aku di tinggalkannya sehingga ingatanku menjadi buram. Wanita ini terlihat lebih hitam dan kekar. Rambutnya brekele seperti permen gula merah yang di jual di pasar malam. Tepatnya ia seorang muso di film Ruffi sang bajak laut. Wanita itu berjalan kearah kami seakan dia tidak memperdulikan kami. Kucoba mengucek kedua mata dan berharap dia bukan ibuku. Teman-teman undanganku hanya terdiam dan berusaha menyamakan diriku dan dirinya. Tak lama kemudian neneku keluar seraya berteriak “Sumarniiii…..anaku”. aku terhentak di buatnya. Suara itu bagaikan petir menyambar bulu kuduk. Aku merinding setengah mati. Tak beda dengan teman undanganku. Mereka saling memandang dan menatap wajahku. Bergegasku mendekatinya dan mencium kedua tangannya. Walaupun berat semua ini, namun aku harus menerimanya. Kuangkat barang-barangnya dan kuantarkan kedalam kamar. Hari ini kulewati di luar jalur harapan.
Hari-berganti dan bulanpun berlalu. Dengan cepat sekenario kehidupanku berubah total setelah kedatangan ibu kandungku. Setiap pagi kumenjumpai agenda baru, yaitu mengambil air dan mencuci piring, dilanjutkan dengan agenda lama, membantu nenek membuat kue. Otomatis jatah tidurku berkurang satu jam. Jadi, tepat pukul tiga pagi aku harus stand by di sumur warisan dengan seonggok piring kotor. Siangnya sebelum jualan Koran, aku dihidangkan setumpuk baju kotor warga kampung. Karena ibuku membuka usaha baru, yaitu, menjadi laundry kampung . Dan malam selepas memijit kakek kuberubah menjadi salesman laundry kampung. Kuberjalan keliling kampung mengantarkan baju bersih dan mengambil baju yang telah kotor. Tak ayal dalam seminggu kedua betis kakiku bagai singkong di suntik botox. Besar tak beraturan. Di samping itu, setiap pekerjaan yang kujalani harus selesai dengan cume laude atau sempurna. Tak jarang karena kesalahan sedikit kudisabeti rotan atau sepupunya gagang sapu. Sungguh baru beberapa hari saja ibuku telah merubah rumah kesayanganku menjadi penjara Guantanamo. Luar biasa !!...
Malam ini terasa begitu melelahkan. Setelah berubah menjadi salesman laundry kampung, kubelajar lembur semalaman, karena besok akan di adakan ujian akhir semester kedua. Semua materi yang akan diujikan telah kuhafal semalam suntuk. Tepat pukul dua pagi mataku melakukan demo besar-besaran meminta haknya untuk tidur. Aku pun tak berdaya di buatnya. Kupejamkan mata dan berlayar mengarungi samudera mimpi. Namun, baru sebentar badai samudra datang melanda, perahu yang kutumpangi terseok ombak dan menabrak batu karang, belum sempat kuberdiri, tiba-tiba kumelihat ombak tinggi menuju ke arahku dan akhirnya. “ Byurrrrrr…….!”.
Sebuah semburan air berkecepatan 683 km/jam tumpah ruah membasahi kamar diiringi lemparan ember Lion Star. Samar-samar kulihat bajak laut brekele seperti dalam film one piece. Bajak laut itu mendekat dan menarik tubuhku dalam-dalam, membawanya kesebuah tempat yang saya rasa tempat ini tidak asing lagi. Tapi kepalaku terasa berat dan amat sangat pusing. Ternyata bajak laut itu belum puas membantaiku. Serta merta ia mengguyuriku dengan lusinan gayung, kuterperanjat dibuatnya, secara tidak langsung kesadaranku pulih disambut dengan teriakan.

” Bangunnnnnnnn!!!!!!. Dasar pemalas..lihat jam berapa sekarang.”

Melihat tubuhku basah kuyup. Bajak laut itu pergi mencampakanku dengan seonggok piring kotor. Kuterdiam termangu dengan kepala pening tak tertahankan. Sayup-sayup terdengar suara adzan subuh menggema seantero kampung. Semangatku tumbuh untuk melakukan rutinitas. Namun, Uh.... kepalaku pusing sekali. Seluruh badanku terasa di potong-potong, sakit tak terbayangkan. Maklum baru satu jam aku tidur dengan rutinitas yang sangat berat ini. Kukembali duduk menahan kepala yang begitu berat. Kuratapi nasib yang begitu menyesakakkan. Mati segan hidup tak mau. Kira-kira begitulah ungkapan dalam hati.
Sang mentari pagi bersinar cerah. Cahaya kuningnya memancarkan kesegaran bagi jiwa yang kelam. Tanpa terasa pekerjaanku telah selesai. Cucian telah bersih, bak mandi telah penuh dan kue-kue nenek telah jadi. Kuberanjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Semburan demi semburan air mengalir membasahi. Kesegaran kembali bersemayam dalam tubuh. Kuberanjak kesekolah untuk melaksanakan ujian akhir semester.
Teng..teng....teng ..... bel berbunyi tiga kali menandakan ujian hari ini telah selesai. Kulangkahkan kaki keluar dari sekolah. Udara panas jakarta begitu menyengat, membangunkan sel-sel keringatku yang tertidur sejak pagi. Kuberteduh di sebuah pohon rindang pinggir jalan. Angin kemarau utara menyapa tubuh yang bersimbah keringat. Terasa menyegarkan. Kucoba menenangkan diri yang terasa hancur. Kupandangi perjalanan hidup beberapa hari ke belakang. Begitu cepat berubah. Semua angan dan cita-cita hancur berantakan. Mulai dari hidup lebih baik, sampai mendirikan pabrik koran. Semuanya hilang di telan waktu seiring dengan hancurnya perasaan. Ah... aku mulai lelah menghadapi euforia kehidupan yang tak kunjung berahir. Terbayang jauh dalam pikiran alam bawah sadar. Fantasiku melayang jauh menyusuri lembah jurang yang kelam terseok dengki dan dendam membara. Bagai api dalam sekam. Tak merah namun menyengat. Diam tetapi menghanyutkan. Menyerang yang mengusik dan menghabisi tekanan. Kini pikiranku terdampar di sebuah toko sejenis obat-obatan. Toko yang menjual berbagai jenis obat, mulai dari obat manusia hingga obat serangga semua terpajang rapi. Dari yang menghancurkan hingga yang meyehatkan semua tersedia. Entah apa yang tererjadi pikiranku telah menguasai segalanya. Aku menghampiri toko itu dan membeli sebuah obat yang terlihat asing bagiku. Tahukah engkau kawan, obat apakah itu ? aku membeli CNX2-HO7, atau lebih jelasnya racun kecoa. Kukeluarkan beberapa lembar uang kertas untuk membelinya. Segera aku beranjak dari toko itu untuk menemui teman-teman loper koran.
Hari berganti dan minggu pun berlalu. Sudah dua minggu aku tidak pulang kerumah. Tiap hari kerjaanku hanya judi, mabok dan mencopet di pasar. Tidak ada semangat dalam jiwaku untuk hidup. Yang ada hanya berhura-hura dan benci bercampur dendam kepada ibuku. Ya.. hanya itu yang ada dalam pikiranku, tak ada yang lain. lalu pada suatu malam yang dingin di temani gemuruh hujan lebat. Aku tertidur di semak belukar bangunan kosong. Tak lama kemudian dari kejauhan aku melihat ibuku membawa sebatang kayu rotan yang tak asing lagi bagi tubuhku. Terutama bagian tangan, paha dan betis. Karena bagian itulah sasaran benda keras nan panjang itu. Aku berusaha menggerakan badan bersembunyi pada semak banguan yang gelap. Namun ibuku semakin mendekat kearahku seakan ia tahu akan keberadaanku. Kucoba untuk melangkahkan kaki untuk kabur. Tapi tangan ibuku lebih dulu menarik bajuku dan memukuliku dengan rotan. Aku mengaduh kesakitan. Mejerit menahan pukulan. Terisak dengan kerasnya rotan. Aku memohon ampun dengan jeritan tangis. Namun ibuku tetap memukuliku hingga tulangku terasa copot. Dan akhirnya. Uh...... ternyata aku telah bemimpi. Aku telah mimpi buruk. Buruk sekali bahkan mengerikan.
Sang mentari terbit dari ufuk timur. Cahayanya menyeruak menyinari wajahku yang kusut. Aku kembali bangun dari tidurku untuk yang kedua kalinya. Kepalaku terasa pusing dan berat. Bayangan mimpi itu masih melekat dan terasa. Aku termenung memikirkan kejadian semalam. Mengapa itu bisa terjadi menimpaku ? mengapa ibuku berbuat demikian kepadaku ? apakah ia ibu kandungku ? atau ia hanyalah orang lain yang mengaku-ngaku sebagai ibuku. Beribu pertanyaan menyesakan silih berganti. Akhirnya pikiranku sampai pada titik terakhir dengan kesimpulan bahwa dia bukan ibu kandungku. Ia hanya orang lain yang mengaku sebagai ibu kandungku. Kini aku harus pulang dan menyelesaikan masalah in dengan tuntas.
Kuberjalan menyusuri jalanan kota menuju rumah. Terlihat keadaan rumah yang tidak berubah. Masih terlihat kumuh dan menyimpan kenangan pahit dalam diriku. Sayup-sayup kumengintip sela-sela rumah. mengawasi setiap gerak gerik dalam rumah. namun di sana aku tidak melihat ibuku. Aku hanya melihat kakek dan nenek sedang sarapan. Aku melanjutkan pengawasanku jauh lebih ke dalam rumah hingga ke kamar ibuku. Di sana aku hanya menemukan beberapa pakaian baru terbungkus plastik dan sepiring nasi telur. Sejenak aku menggeledah lemari ibuku mencari barang berharga yang sekiranya bisa di jual. Namun aku tidak menemukan apa-apa. Hanya kekesalan dan kebencian yang memuncak dalam pikiranku. Tahukah engkau kawan apa yang aku lakukan selanjutnya ? aku mengeluarkan racun serangga dari dalam saku dan menaburkannya di atas nasi telur itu. Entah setan apa yang telah merasuki pikiranku hingga aku tega melakukannya. Kini yang ada dalam pikiranku tinggal bagai mana meninggalkan rumah ini dan mendengar kabar kematianya. Aku keluar dari kamar dan tiba-tiba aku bertemu kakek. Serta merta ia memeluku erat dan menciumiku. Ia sangat merindunkaku. Baru dua minggu aku meninggalkannya seakan aku telah meninggalkanya dua tahun. Aku merasa sedih di buatnya. Aku merasakan kembali kasih sayang yang telah hilang. Aku merasakan kembali kehangatan cinta kakek, walaupun ia bukan ayah dan ibuku. Bahkan aku tidak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tuaku. Ayahku pergi entah kemana dan ibuku pergi ke arab sejak aku berumur tiga tahun. Tidak ada satupun kenangan manis dalam hidupku bersama ayah dan ibu. Yang ada hanya dendam, benci dan hina.
Aku mencoba melepaskan pelukan kakek. Tak terasa air mata mengalir membasah pipi. Sungguh baru kali ini aku menangis karena kasih sayang. Lalu kakek menanyakan banyak hal, baik tentang kesehatanku, tidurku, makanku bahkan segala yang menyangkut kehidupanku selama aku pergi ia tanyakan. Kujawab semua pertanyaan apa adanya dan menjelaskan sebab kepergianku. Setelah lama berbincang aku bergegas mohon pamit meninggalkan kakek. Lalu ia mengizinkanku pergi dengan syarat aku harus memberi kabar tentang keadaan diriku. Aku kembali bekerja dengan teman-teman tanpa memberi tahu mereka apa yang telah aku lakukan.
Pagi yang mendung dengan kabut tipis di atas ubun-ubun. Kumulai kehidupanku dengan mencari iformasi terbaru tentang keadaan ibu. Entah mengapa hari ini perasaanku tidak tenang. Bergegas kulangkahkan kaki menuju rumah. sayup-sayup dari kejauhan aku melihat keramaian di sekitar rumah. banyak orang berkumpul dengan pakaian putih dan berpeci. Sengaja kubertanya pada seseorang tentang apa yang telah terjadi di sana. Ia hanya berkata bahwa salah seorang anggota keluarga itu yang bernama Sumarni telah meninggal keracunan. Apa ... !! aku tersentak di buatnya. Jawaban itu bagai petir kebahagiaan dalam hidupku. Entah mengapa aku merasa bangga telah sukses membunuh ibu kandug sendiri. Aku berlari menjauhi rumah menuju teman-teman. Dengan rasa bangga kukabarkan berita ini kepada mereka. Namun apakah yang terjadi dengan mereka ? mereka malah mencampakanku dan mengutukiku dengan sumpah serapahnya. Mereka menjauhiku dan tidak mau lagi berteman denganku. Mereka tidak menghargai sama sekali usahaku. Sungguh aku tidak mengerti dengan mereka. Apa yang telah terjadi kepada mereka ? apakah aku telah berbuat salah ? atau aku telah menyakiti mereka hingga mereka bena-benar meninggalkanku ? Ah ...ini gila !!! mengapa mereka tidak mengerti perasaanku. Mengapa mereka tidak merasakan penderitaanku selama ini. Aku hanya termenung meratapi nasib yang semakin hancur. Benar-benar hancur berantakan. Kini aku tersesat di tengah samudra luas setelah kehilangan kompas. Tak tahu arah, tak tahu tujuan. Bahkan tak tahu untuk apa aku hidup.
Hari berganti dengan segala kepenatannya menyesakan dada. Aku pulang kerumah dengan harapan ada secercah cahaya kehidupan. Cahaya yang menerangi jalan hidupku yang gelap. Namun aku kembali di kagetkan dengan keramaian di depan rumah. Sekarang bukan lagi orang yang memakai baju putih dan berpeci. Apakah engkau tahu kawan siapa mereka ? Mereka adalah polisi. Segerombolan polisi dengan peralatan lengkap. Membawa mobil tahanan dan beberapa motor patroli di sampingnya. Tidak hanya itu rumahku di kelilingi oleh garis kuning dengan tulisan " No Passing Here ". sayup-sayup aku mengendap medekati rumah dengan harapan polisi itu tidak tahu bahwa akulah tersangka dalam kasus ini. Tak lama kemudian para polisi itu keluar dengan membawa kakek. Mereka mengikat kedua tangan kakek dengan borgol dan menyeretnya ke dalam mobil tahanan. Dengan cepat aku belari menuju kakek. Menyingkirkan para polisi yang memegang kakek. Kutarik kakek sekuat tenaga agar terlepas dari para polisi. Aku menjelaskan kepasa mereka bahwa akulah yang membunuh Sumarni. Akulah yang telah menaburkan racun di atas makanannya. Tapi tolong jangan bawa kakek. Ia tidak bersalah. Ia tidak tahu apa-apa tentang masalah ini. Tetapi kakek malah memotong kata-kataku. Ia malah mengaku bahawa dialah pelakunya. Di sela-sela keributan kakek hanya berpesan kepadaku. Ia berpesan untuk selalu menjaga nenek. Ia tahu bahwa akulah pembunuh sumarni, namun kakek tidak rela kalau aku di penjara. Ia tidak mau melihatku menderita apalagi terluka. Ia memilih di penjara dari pada melihatku kenderita. Aku masih muda dan jalan hidupku masih panjang. Ia berharap agar aku berubah dan kembali kepada jalan yang benar. Dan satu hal dari perkataan kakek yang hampir membuatku mati berdiri. Ia mengatakan bahwa ibuku telah membelikan baju seragam baru dengan peralatan sekolah yang komplit untuk melanjutkan study-ku. Ibuku membelinya dari uang hasil laundry dan laba dari jualan kue nenek. Itulah kata-kata terakhir yang keluar dari mulut kakek. Lekat-lekat kutatap mata kakek dengan mengusap wajahnya yang keriput. Tak terliihat sedikitpun penyesalan atas perbuatannya. Ia hanya menetapku tajam penuh harapan. Ya.. itulah terakhir kali aku melihat kake di rumah. polisi itu kemudian membawa kakek ke rumah tahanan.
Hari-hari kulalui tanpa kakek yang selalu menberi semangat. Kini kehidupanku terasa oleng bak burung kehilangan satu sayap. Namun di sela-sela aktifitas aku tak dapat menyembunyikan perasaan bersalah terhadap kakek. Kian hari rasa ini kian bertambah. Penyesalan demi penyesalan merasuk dan menyebar ke seluruh rongga dada. Begitu penat dan menyesakkan. Hingga akirnya pada suatu hari aku di datangi dua orang petugas kepolisian. Mereka memberikan sepucuk surat pemberitahuan. Tahukah engkau kawan apa isi surat itu ? surat itu adalah surat pembeitahuan bahwa kakek telah meninggal tadi malam. Ia terkena serangan jantung setelah solat tahajud. Ya Allah... begitu besar cobaan yang engkau beriakan kepadaku. Belum hilang kesedihanku atas ditahnnya kakek. Kini Engkau ambil dia untuk selamanya. Tak ada kata yang dapat aku ucapkan melainkan tangis dan tangis penyesalan.
Kini aku tidak punya lagi gairah untuk hidup. Semua semangat hidupku sirna seiring dengan kepergian kakek untuk selamanya. Namun aku teringat pesan kakek yang terakhir kali. Agar aku selalu menjaga nenek dan kembali kepada jalan yang benar. Akhirnya aku bertemu dengan seorang ustadz. Dia seorang alumni sebuah pesantren besar di jawa timur. Ustadz itu menyarankanku untuk belajar di pesantrenya dulu. Aku kembali pulang meminta restu nenek. Dan nenek pun merestui kepergianku. Di akhir keberangkatanku aku berjanji akan menjadi orang soleh yang mengabdi kepada orang tuanya. Dan aku meminta agar nenek menjaga diri dan selalu memberi kabar.
Kehidupanku di pesantren beransur membaik. Banyaknya kegiatan telah menghapus sebagian besar memori masa laluku. Aku merasa bersyukur bisa belajar di pesantren ini. Banyak ilmu yang aku ambil dari sini. Mulai dari ilmu umum hingga ilmu agama yang mendalam. Akhirnya aku menyadari akan perbuatan yang telah aku lakukan. Begitu besar dosa yang telah aku lakukan. Namun di setiap solat malam aku selalu berdoa.
" Ya Allah.. Seandainya malin kundang adalah balasan yang setimpal bagi seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya. Maka jadikanlah aku batu."

Writen at 8911-12;17

SALAHKAH AKU

SALAHKAH AKU

" Allahu Akbar….Allahu Akbar……"
" La Ilaha Ilallah…."

Adzan subuh menggema seantero kampung. Suaranya menyeruak membangunkan bani Adam yang terlelap. Fahri. Seorang pemuda alumni sebuah pondok besar di jawa timur. Terbangun dari lelapnya yang indah. Membuka tirai jedela kamarnya nan gelap. Udara segar pagi menelusup masuk menyibak kemalasan. Segera ia bersiap-siap beranjak ke masjid. Seperti biasa setelah menjadi imam sholat subuh ia mengisi pengajian remaja masjid. Banyak para remaja, anak-anak, bahkan orang tua ikut menyimak setiap petuah yang keluar dari Fahri. Walaupun ia hanya seorang alumni sebuah pesantren, tapi jangan ditanya masalah ceramah. tasji dan lain sebagaiya yang berhubungan dengan ngomong di depan umum. Dialah jagonya. Bukan hanya itu sepak terjangnya juga bukan main. Mulai dari kepanitiaan acara, hingga menggerakan pemuda kampung, semua di bawah kepemimipinannya. Tak ayal kalau jam terbangnya hampir menyamai khalifah umar bin kahatab. Seorang khalifah yang menyandang gelar singa padang pasir. Apabila anda ingin menemui Fahri jangan harap bisa menemuinya di siang hari. Minimal pukul sembilan malam dia baru ada di rumah. Padatnya aktifitas dan banyaknya undanganlah yang membuatnya jarang di rumah.
Hari berganti dan minggu pun berlalu. Sepak terjang Fahri semakin hari semakin menujukan tingkat prestasinya yang tajam. Menyilaukan setiap mata memandang, terlebih bagi kaum hawa. Banyak para remaja wanita yang menaruh hati padanya. Baik itu dari anggota pengajiannya atau pun bukan. Mereka sangat mengagumi Fahri. Namun tidak ada satu pun yang berani mengungkapkan perasaanya. Mereka tahu akan karakter dan kepribadian Fahri. Ia bukan tipe pemuda yang luluh oleh hadiah, harta atau pun kecantikan. Ia sangat sensitive sekali masalah sopan santun dan agama. Terlebih masalah moral dan akhlak. Ia sangat menjunung tinggi moral yang baik dan akhlak yang mulia. Tak heran kalau pemuda ini menjadi pujaan setiap wanita.
Hingga pada suatu hari datanglah seorang wanita dari kota. Farah. Seorang wanita yang bekerja di kota untuk membiayai adik-adiknya. Kedua orang tua mereka telah pergi ketika Farah duduk di bangku SMA. Setelah kepergian kedua orang tuanya Farah dan adik-adiknya tinggal bersama nenek. Namun karena neneknya hanya bekerja sebagai penjual gorengan dan tidak cukup untuk membiayai biaya adik-adiknya. Akhirnya setelah lulus SMA Farah meutuskan untuk bekerja di kota. Entah kerja apa ia di kota, yang jelas tiap bulan ia mengirim uang ke kampung untuk adi-adiknya. Kata orang sih.. ia kerja di komplek-komplek gak jelas statusnya. Namun ketika neneknya bertanya soal pekerjaannya. Ia malah marah dan jangan mengungkit-ungkit masalah itu lagi.
Seiring waktu berlalu Farah menjalankan aktivitasya seperti biasa. Entah ada angin apa hari ini ia bangun lebih pagi. Terketuk hatinya untuk solat subuh di masjid. Dengan cepat ia mempersiapkan segalanya dan solat subuh berjamaah. Seperti biasa setelah solat subuh di masjid kampung ini selalu ada pengajian. Farah mengikuti pengajian yang di pimpin Fahri. Banyak ilmu yang ia dapatkan dari pengajian ini. Mulai dari masalah halal dan haram hingga masalah batasan-batasan aurat wanita. Fahri menjelasakannya penuh wibawa dan penghayatan yang mendalam. Secara tidak sengaja Farah terkesima dengan keilmuan dan kepribadiannya. Tutur katanya yang lembut dan kesopanannya membangkitkan Inerbeauty Farah. Setiap gerak-geriknya ia perhatikan. Bukan hanya itu, bahkan ia hafal setiap bagian dari diri Fahri entah suaranya, jalanya sampai jadwal kegiatannya. Secara tidak langsung Fahri telah mencuri hati Farah dengan halus. Ah …cinta memang seperti siluman berbulu surga. Sulit namun diburu.
Hari berlalu dengan rotasinya yang kekal. Perasaan Farah kian hari kian menggelora. Merasuk ke dalam jiwa. Menyeruak menelusup saraf-saraf sensorik. Membius akal sehat dan hati nurani. Namun di sela-sela sense-nya ia bingung akan keadaan dirinya. Ia merasa tidak pantas menjadi pendaping Fahri. Ia terlalu kotor untuk mendampingi Fahri. Tapi ia bukan seorang wanita yang mudah putus asa. Farah telah lumayan lama bergulat di kota. Ia sudah banyak makan asam garam kehidupan. Akhirnya ia mempunyai inisiatif untuk berubah menjadi baik. Mulai dari sikap, ucapan, hingga pakaian ia ubah total. Kini Farah telah menjadi seorang muslimah yang cantik rupawan. Kegiatannya lebih banyak diisi dengan ibadah dan introspeksi diri. Ia tidak ingin lagi kembali ke kota. Lalu untuk membiayai adik-adiknya ia bekerja di sebuah koveksi busana muslim. Dengan segala totalitas perubahan yang telah ia ciptakan. Akhirnya ia dapat mendekati Fahri. Banyak rutinitas yang ia lalui bersama Fahri. Mulai dari acara-acara kecil hingga kepanitiaan pengajian kampung Farah selalu bersama Fahri. Perkembangan itu pun semakin menonjol dengan sikap hangat Fahri kepadanya. Namun apa boleh di kata. Sebaik-baiknya meyembunyikan bangkai pasti akan tercium juga. Itulah yang terjadi dengan Farah. Baru saja ia bisa menghirup indahnya sebagai seorang muslimah. Ia mulai di coba dengan gossip-gosip yang miring. Disamping rutinitasnya dengan Fahri. Banyak wanita lain yang merasa iri dan tidak suka atas apa yang telah di capai Farah. – sebut saja namanya Silvi- ia seorang remaja anggota pengajian yang di pimpin Fahri. Ia juga telah lama menyimpan perasaan kepada Fahri. Bahkan Silvi jauh lebih lama akrab bersama Fahri. Sikap yang di tunjukan Fahri kepadanya pun jauh lebih hangat. Namun semuanya berubah setelah kedatangan Farah. Kehangatan yang dulu ia rasakan semakin memudar dan sirna. Acara demi acara yang di pimpin Fahri lebih banyak bersama Farah. Sampai acara rutinan kampong, Farah selalu menjadi tangan kanan Fahri. Akhirnya Silvi merasa gerah atas kenyataan ini. Ia tidak bisa tinggal diam dengan segala kepenatannya. Ia harus menghentikan semua ini. Lalu ia mempunyai ide untuk menjauhkan mereka berdua.
Hari yang indah dengan udaranya yang sejuk, Silvi bergegas menemui Fahri. Ia menjelaskan semua asal-usul Farah. Mulai dari kematian kedua orang tuanya hingga ia bekerja di kota. Semua ia jelaskan panjang lebar sehingga Fahri merasa marah kepada Farah. Ia juga menjelaskan bahwa perubahan dirinya tidak lain hanya untuk medekati dirinya. Setelah mendengar penjelasan dari Silvi. Fahri merasa telah di perdaya oleh Farah. Ternyata selama ini segala sikap baiknya hanya untuk mendapatkan pujian orang lain. Tanpa menunda-nunda waktu Fahri langsung menemui Farah. Kebetulan di jalan ia menemukan Farah pulang dari tempat kerjanya. Fahri langsung membawa Farah ke suatu tempat untuk berbicara dengannya.

" Sengaja aku ajak kamu kesini. Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu.”
“ Tentang apa Fahri ?”
“ Begini Farah, dulu aku pernah membaca sebuah kitab karangan 'Ustman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syaakir Alkhaubawiyi, seorang ulama yang hidup dalam abad ke XIII Hijrah, menerangkan bahwa sesungguhnya Allah S.W.T telah menciptakan akal, maka Allah S.W.T telah berfirman yang bermaksud : "Wahai akal mengadaplah engkau." Maka akal pun mengadap kehadapan Allah S.W.T., kemudian Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Wahai akal berbaliklah engkau!", lalu akal pun berbalik. Kemudian Allah S.W.T. berfirman lagi yang bermaksud : "Wahai akal! Siapakah aku?". Lalu akal pun berkata, "Engkau adalah Tuhan yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu yang daif dan lemah". Lalu Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Wahai akal tidak Ku-ciptakan makhluk yang lebih mulia daripada engkau.". Setelah itu Allah S.W.T menciptakan nafsu, dan berfirman kepadanya yang bermaksud : "Wahai nafsu, menghadaplah kamu!". Nafsu tidak menjawab sebaliknya mendiamkan diri. Kemudian Allah S.W.T berfirman lagi yang bermaksud : "Siapakah engkau dan siapakah Aku?". Lalu nafsu berkata, "Aku adalah aku, dan Engkau adalah Engkau.". Setelah itu Allah S.W.T menyiksanya dengan neraka jahim selama 100 tahun, dan kemudian mengeluarkannya. Kemudian Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Siapakah engkau dan siapakah Aku?". Lalu nafsu berkata, "Aku adalah aku dan Engkau adalah Engkau.". Lalu Allah S.W.T menyiksa nafsu itu dalam neraka Juu' selama 100 tahun. Setelah dikeluarkan maka Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Siapakah engkau dan siapakah Aku?". Akhirnya nafsu mengakui dengan berkata, " Aku adalah hamba-Mu dan Kamu adalah tuhanku.”
“Dengar Farah…… dalam hal ini aku ingin mengatakan kepadamu bahwa sesungguhnya merubah diri untuk menjadi baik karena ingin di puji orang lain atau pun ingin dekat dengan seseorang yang sangat kamu sayangi adalah sebagian dari nafsu. Semua pekerjaan atau pun perubahan yang telah engkau lakukan dengan mengharapkan selain ridho dari Allah adalah budak nafsu yang berujung pada fatamorgana."
" Maksud kamu, selama ini perubahan yang terjadi kepada diriku bukan karena Allah ?"
" Bukan begitu Farah, aku hanya ingin mengingatkan dirimu supaya tidak salah niat dan kembali pada jurang kenistaan yang kelam."
" Tapi aku tidak seburuk yang kamu bayangkan."
" Iyah….. aku faham akan perasaanmu tapi….."
" Ah… aku sudah tahu maksudmu.."

Farah berlari pergi menjauhi Fahri, setengah wajahnya ia tutup dengan ujung kerudung. Fahri mencoba memanggil Farah berkali-kali tapi ia tidak menghiraukan panggilannya. Semakin lama tubuh Farah hilang di telan waktu. Fahri hanya bisa diam membisu meratapi kepergian Farah. Keesokan harinya, Fahri mendapatkan sebuah bingkisan dan sebuah surat dari Farah. Ia membuka surat itu dan membacanya.








Teruntuk mas Fahri

di
tempat

Andaiku sanggup menggapai gemerlapnya bintang di awan. Lengkungan pelangi yang menghiasi indahnya ciptaan. Waktu yang berjalan mengintari kehidupan mahluk Tuhan. Ingin kupersembahkan kepada seorang pangeran rupawan. Sebagai ungkapan dari lubuk hati yang paling dalam. Untuk mebuktikan bahwa engkaulah bayangan diriku. Lembaran hidupku yang akan kupenuhi dengan tinta cintaku. Impian indah yang akan kulalui bersamamu. Sampai ajal menjemputku dalam ketulusan kalbu.
Namun, semerbak wangi bunga kamboja telah menyebar membawa aroma kematian jiwa. Sang pangeran angkuh pergi meniggalkan semua harapan. Dengan segala kehormatan dan kejayaan yang telah di capainya. Mencampakanku yang hina dalam pandangannya. Menenggelamkanku setelah bangun walaupun sesaat. Menyeretku hingga terseok duri-duri beracun.
Kini aku tak sanggup lagi mengejar pangeran yang angkuh. Aku lebih memilih kembali pada jalanku walaupun buruk baginya. Namun itu baik bagiku dan lebih menyenangkan. Daripada mengejar sesuatu yang tak kunjung berakhir. Hanya luka dan luka yang selalu menemani setiap waktuku. Mungkin jika pangera lebih bahagia dengan kepergianku. Aku pun rela untuk melakukannya. Senyummu adalah bahagiaku dan sakitmu adalah tangisku.
Tak lupa aku kembalikan semua pakaian kebesaran yang selalu menemanimu. Mungkin aku tidak pantas untuk memakainya, biarkanlah orang lain yang memakainya yang lebih pantas menurutmu.

Farah


Setelah membaca surat darinya. Fahri membuka bingkisan dari Farah. Terlihat bingkisan itu lebih besar dari biasanya. Namun ia terkejut setelah membuka bingkisan itu. Ternyata dalamya adalah seperangkat baju muslimah. Mulai dari kerudung putih, baju gamis panjang yang selalu ia pakai ke pengajian, hingga alat-alat solat. Semua tersimpan rapih dalam bingkisan itu. Fahri merasa berdosa atas apa yang telah ia lakukan. Seandainya waktu bisa berulang. Ia ingin menariknya kembali dan merubah segalanya.
Setelah beberapa hari kemudian, Fahri menonton berita dalam acara televisi, dan di salah satu berita yang menerangkan tentang razia PSK. Ia melihat Farah di giring oleh petugas memasuki mobil patroli. Dalam hati Fahri bertanya.

" Ya Allah salahkah aku atas semua ini ?"

TUHAN PANTASKAH AKU HIDUP

TUHAN PANTASKAH AKU HDUP

Malam nan indah ditemani sang bulan menampakan wajahnya yang sempurna. Bintang-bintang berkilauan seakan mengajaku bercengkrama dengannya. Angin kemarau selatan menyapaku yang termenung di paflon jendela kamar. Terpaku memandangi tiang–tiang angkuh gerbang rumah. Adam. Anak tunggal seorang pengusaha sukses yang mempunyai saham terbesar se-Asia Tenggara. Hidup bergaya hedonis dengan segala fasilitas extra wonderful. Bergaul dengan lingkungan zetset pusat kota. Tak ayal semua yang ia inginkan pasti dikabulkan. Walaupun di usianya yang terbilang sangat muda. Adam telah di didik Ayahnya untuk menjadi seorang pengusaha sukses yang terikat dengan schedule and timing. Segala tindak tanduk dan pola pikirnya sangat diperhatikan. Bahkan ia ditempatkan di sebuah rumah mewah bak istana zaman Imperium.
Adam masih terpaku dalam fantasinya. Ia menunggu seseorang yang sangat dirindukannaya. Seseorang yang telah mengubah selururuh taraf hidupnya. Tak lama kemudian seorang satpam membuka pintu gerbang. Adam terbangun dari lamunan dan berharap dewi fortuna berada di pihaknya. Sebuah mobil Lamborgini hitam keluaran terbaru meluncur ke halaman rumah. Dengan senyum mengembang Adam beranjak menuju halaman rumah. Menuruni tangga empat lantai yang berliku membuat nafasnya sedikit tersengal-sengal.
Dengan segap dua suster dan seorang satpam berseragam putih membukakan pintu mobil.Seorang lelaki bertubuh tegap dengan Fulldress-nya setengah kusut keluar dari mobil. Guratan wajahnya menunjukan rasa lelah yang sangat. Namun ketika Ia melihatku berdiri di depan pintu rumah. Senyumnya mengembang menyeka seluruh guratan di wajahnya. Andri .Seorang Ayah yang sangat kurindukan. Tiga bulan sudah tidak bertemu. Setelah menghadiri penataran pengusaha ternama di sebuah lembaga CEO Amerika Serikat. Sungguh prestasi yang sangat luar biasa. Di usianya yang menginjak kepala tiga. Ia telah menguasai beberapa perusahaan besar dunia. Tak ayal banyak seminar-seminar dan menteri-menteri yang mengundangnya di acara-acara penting.
Kuberlari menuju Ayah dan memeluk tubuhnya. Kehangatan tubuh Ayah menyebar ke seluruh rongga jiwa. Menghapuskan kerinduan yang begitu mendalam. Tak terasa air mata mengalir membasahi pipi. Ku ajak Ayah ke belakang rumah. Terlihat hamparan rumput hijau lapangan golf. Diterangi bintang dan bulan yang setia menemani di setiap waktuku. Kuberbaring bersama Ayah di atas rumput dan berbincang-bincang tentang pengalamannya ketika di Amerika Serikat. Begitu menyenangkan. Banyak pelajaran yang Ayah berikan kepadaku. Tak lama kemudian Ibu datang. Aura Iner Beauty ibu begitu terasa menentramkan hati. Ia mendekat dan mengecup kening. Sungguh dari 10 tahun perjalanan hiupku baru kali ini aku merasakan kehangatan yang tidak dapat kulupakan.
Tiga tahun berlalu Ayah semakin jarang di rumah, tak ada bedanya dengan Ibu. Dalam Satu tahun, keberadaan mereka bisa dihitung dengan jari. Namun, semakin hari bisnis Ayah semakin memburuk. Banyak perusahaan dalam negri Ayah yang gulung tikar dikarenakan krisis moneter yang berkepanjangan, begitu juga dengan perusahaan di luar negri. Mereka gulung tikar karena harga minyak yang kurang stabil dan melambung tinggi. Tidak sedikit saham dan perusahan Ayah yang dijual untuk menutupi kerugian dan hutang-hutang perusahaan yang lainnya. Disamping itu, kesehatan Ayah kian hari kian memburuk. Banyaknya pikiran merupakan faktor utama penyebab kesakitannya. Bermacam-macam penyakit ganas bersarang di tubuh Ayah. Terakhir Ayah di vonis dokter menderita diabetes mellitus dan penyakit ginjal tingkat tiga. Penyakit yang banyak di takuti orang dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun Ayah tidak menghiraukan penyakit itu karena Ayah merasa tubuhnya sehat. Ayah masih melanjutkan aktivitasnya sehari-hari mengelola bisnis yang hampir mati.
Hari berganti dan bulanpun berlalu tetapi kondisi Ayah kian memburuk. Di suatu saat setelah rapat Ayah terjatuh tak sadarkan diri. Ayah langsung dilarikan ke sebuah rumah sakit terbaik di Jakarta. Namun penyakit Ayah yang sudah kronis dan peralatan rumah sakit yang kurang memadai. Ayah dianjurkan untuk dirawat di rumah sakit Singapura.Tanpa berfikir panjang Ibu langsung membawa Ayah terbang ke Sinagapura. Alhamdulillah pihak rumah sakit Singapura sanggup mengobati Ayah. Walau mereka tak menjamin akan kesehatan Ayah karena penayakit yang diderita Ayah sudah kronois. Ayah di tempatkan diruangan VIP dan otomatis membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tak jarang Ayah menjalani operasi ginjal. Hingga akhirnya Ayah divonis dokter untuk melakukan cuci darah setiap satu bulan sekali.
Mendengar hal itu hatiku hancur bagaikan dihantam palu godam kiriman dari langit. Menurut informasi yang kudapat dari berbagi sumber pos kesehatan. Bahwasannya seseorang yang telah divonis dokter untuk menjalani cuci darah. Maka jarak tenggang waktu ia mencuci darah akan semakin sempit. Hingga durasi tiap minggu sekali ia harus mencuci darah. Apabila demikian, maka kehidupannya telah bisa ditentukan dan hal ini sekarang menimpa Ayah. Seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Seorang Ayah sekaligus guru yang mengajariku tentang berbisnis yang baik. Kini kondisi Ayah sangat buruk sama halnya dengan kondisi ekonomi keluarga. Semua kekayaan Ayah yang melimpah ruah kini habis dijual, mulai dari perusahaan-perusahaan besar, perkebunan teh, lapangan golf, hingga mobil-mobil mewah kelas dunia semuanya habis terjual. Yang tersisa harta Ayah satu-satunya tinggal rumahku bak istana zaman Imperium di bilangan puncak bogor
Tenyata keadaan ini berdampak negative pada mental Ibu. Akhir-akhir ini Ibu sering marah-marah pada setiap orang yang berada di sekelilingnya, tidak terkecual dengan Aku. Terlabih ketika Ibu mendapat kabar kalau Ayah harus cuci darah lagi. Kini tenggang waktu Ayah cuci darah menajadi dua minggu sekali. Sebuah keadaan yang sangat kritis. Kondisi Ayah saat ini sangat jauh dari kondisi Ayah tiga tahun yang lalu. Dulu Ayah seorang lelaki yang gagah, tegap dan tampan. Seorang pengusaha muda sukses yang diakui dunia. Bahkan majalah Times Ameika Serikat telah memuat biografi tentang Ayah dan memejeng foto Ayah di cover utamanya. Tak ayal banyak pengusaha dalam maupun luar negri yang berguru kepadanya. Sungguh masa puncak kejayaan Ayah begitu cemerlang. Bagai mentari di malam hari menyilaukan setiap pandangan.
Namun sekarang kondisi Ayah bertolak seratus delapan puluh derajat. Semua kekayaan yang melimpah ruah dan kesehatan telah sirna dari tubuh Ayah. Kini wajah Ayah pucat pasi. Tubuhnya lemah tak berdaya terbujur kaku diatas ranjang. Tulang-tulang tubuh Ayah kini telah menampakan wujud aslinya dan selang infuse talah menjadi bagian dari tubuh Ayah. Sungguh aku tak sanggup melihat kondisi Ayah sekarang ini. Aku tak kuasa menahan air mata disetiap melihat wajah Ayah. Tak ada kata yang keluar dari mulutku selain doa yang kulantunkan disetiap waktu.




“Ya Allah begitu banyak cobaan yang Engkau berikan kepada keluarga kami. Telah Kau rampas seluruh kekayaan keluarga kami, kamipun ikhlas menerimanya. Tetapi ya Allah aku mohon janganlah kau ambil Ayahku. Dialah harta satu-satunya yang paling berharga dalam hidupku.”
“Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Seandainya penyakit Ayah bisa dipindahkan ke tubuhku. Biarlah aku yang menggantikan Ayah. Aku ikhlas menjalani semua penderitaan Ayah. Berikanlah kesehatanku kepadanya. Tukarkanlah kesehatanku dengan penyakitnya. Biarkanlah ia hidup sehat menjalankan bisnisnya sebagai tulang punggung keluarga. Biarlah aku yang terbujur lemas tak berdaya di atas ranjang ini. Kembalikanlah kesehatan Ayah. Berikanlah yang terbaik baginya ya Allah ….Amin…..”

Tak sengaja kedua bola mataku melihat sebuah map biru tergeletak di meja samping ayah. Beranjak kumengambil map itu dan membukannya, ternyata map itu berisi sebuah surat kesepakatan atas penjualan rumahku bak istana imperium di bilangan puncak Bogor, tertera kesepakatan terjalin seminggu yang lalu. Hal ini menandakan bahwanya harta satu-satunya keluargaku telah hilang. Kini keluargaku sudah tidak punya apa-apa lagi bahkan tempat tinggalpun tidak ada, kutak tahu kemana kan kupulang. Kulihat ibu duduk tertidur pulas di bibir ranjang. Waktu telah menunjukan pukul dua belas malam. Tiba-tiba kulihat tangan Ayah bergerak perlahan tapi pasti, bibirnya bergerak kecil seakan ingin mengucapkan sesuatu. Kuberjalan menuju ayah dan memegang tangannya. Kukecup kening ayah penuh hidmat, kehangtan kembali terasa menjalar ke seluruh rongga dadaku yang hilang selama tiga tahun silam. Begitu syahdu dan menentramkan jiwa. Tak terasa air mata mengalir membasahi rambut ayah yang kering. Dengan pelan kubisikan di telinga ayah.

“Ayah …..Ayah ….Ayah bagun yah … Ini Adam….”
“Aaaaaaadam ……di mana kamu nak..?”
“Ini yah…. .Adam di sini disamping Ayah ……”

Perlahan mata Ayah terbuka. Kedua bola matanya melihatku. Tangan Ayah kembali bergerak seakan ingin menyentuh wajahku namun tak kuasa untuk melakukannya. Perlahan Adam memegang tangan Ayah dan menciumnya lalu menempelkannya di pipi . Mata Ayah berkaca-kaca tak terasa air matanya mengalir membasahi telinga.

“Nak mana Ibumu……?’
“Ibu ada di samping yah ..”
“Bu …….bangun bu …. Ayah ingin bicara…”
Perlaha Ibu membuka mata. Setengah kesadaran ibu telah pulih, lalu Ibu mengangkat wajahnya dan memandang ajah Ayah.
“Istriku dimana kamu sayang ……..’
“Ini aku sayang …..disamping kananmu…..”

Perlahan Ayah menoreh kearah Ibu. Tanpa disengaja pandangan Ayah bertemu dengan Ibu. Sebuah keharuan bersemayam di hati mereka.Telah lama mereka menantikan saat-saat seperti ini. Dengan cepat air mata Ibu membasahi pipi. Tanpa disadari Ayah bisa mengangkat tangannya dan menusap air mata Ibu. Suasana haru kembali meliputi ruangan kamar.
“Nnnnannnnda isssstriku………!!!”
“Aaaadam annnnnnaku ……….!!!”
“Sepertinya Ayah sudah tidak tahan lagi menanggung semua penderitaan ini “
“Ayah…….Ayah jangan bilang begitu “
“Adam anaku ……..Nanda istriku……Dengar. Mungkin hidup Ayah tidak lama lagi. Ayah hanya ingin berpesan kepada kalian berdua. Janganlah kalian melanggar perintah yang telah disyariatkan Tuhan, terlebih-lebih tentang solat. Ingat sesungguhnya solat itu sangat berat kecuali bagi orang-orang yang khusu.”
“Nanda istriku….jaga Adam, didik dia tentang agama dan Adam anaku ….jaga Ibumu lindungi dia, janganlah kamu sekali-kali menyakiti ibumu. Ingat surga itu berada di kaki seorang Ibu.”
“Nnnnannnnnda…….Adddaaam sssepertinya Aayah sudah tidak tahan lagi”
“Laaaa…Ilaaaaaha …Illlalllllahhhhhhh……………’
“Ayahhhhhhhhhhh…………..’

Kini ayah telah pergi meninggalkan semua kenangan dihati, terlebih dengan Ibu. Sungguh tak kuasaku melepas kepergian Ayah. Namun apa daya, aku hanyalah seorang manusia biasa yang pasrah pada takdir. Seorang anak yang ingin berbakti disaat detik-detik terakhir kepergian Ayahnya. Dengan berharap Tuhan bisa menukarkan kesehatanku dengan penyakit yang tengah dideritanya dan kini harapnku sirna ditelan waktu seiring dengan kepergian Ayah.
Keesokan harinya jenazah Ayah diterbangkan ke Indonesia dengan maskapai Singapura Air Lines. Dalam pesawat tak ada yang kupikirkan di benakku melainkan kemana aku akan pulang. Dimana harus ku kurburkan jenazah Ayah. Semua harta keluargaku telah habis dijual untuk biaya berobat Ayah. Kutoreh Ibu yang duduk termenung disamping jok pesawat. Ibujari tangan kanannya sibuk memijit tombol telephon genggam. Entah apa yang sedang Ibu pikirkan. Namun kedua bola matanya begitu serius membaca tiap SMS yang masuk. Menandakan Ibu mendapatkan imformasi yang sangat penting.Kualihkan pandangan ke jendela pesawat.Terlihat hamparan awan putih berombak disinari cahaya mentari pagi. Bagaikan bidadari kahyangan sedang bercengkrama antara satu dengan yang lainnya. Betapa indah panorama atas awan di pagi hari. Tetapi hari ini tubuhku terasa lelah sekali. Tiba-tiba dari kejauhan kulihat Ayah terbang bersama para bidadari kahyangan mengelilingi gumpalanawan putih. Terlihat Ayah melambaikan tangan ke arahku. Ketika kulangkahkan kaki menuju Ayah. Tiba-tiba Ibu menarik tangan dan menghentikan langkahku. Kucoba untuk melepaskan genggaman tangan Ibu, tetapi genggamannya begitu kuat hingga melukai tanganku, lalu kumemohon pada Ibu unuk melepaskan gengaman tangannya. Namun Ibu hanya diam dan membisu. Kumenangis sejadi-jadinya sambil memohon pada Ibu dan Ibu tetap diam seribu bahasa. Ketika kumenoreh ke arah Ayah. Lambat laun Ayah berjalan menjauhiku. Makin lama tubuh Ayah semakin hilang tertutup awan. Kuteriak sekuat tenaga memanggil Ayah.

“Ayah…..Ayah….Ayahhhhhhhhhh………!”
“Adam…Adam sadar nak, ini Ibu ……..!”
“Ayyyyahhhh……Bu… mana Ayah tadi aku melihat Ayah bu. Sungguh, tadi
kulihat ayah dijendela pesawat terbang bersama para bidadari kahyangan.”
“Adam anaku….dengarkan Ibu nak. Ayah telah pergi. Ayah telah mengahadap sang penguasa alam semesta. Tadi malam Ayah telah meninggalkan kita berdua.”
“Tapi bu…….”

Tiba-tiba Ibu memeluk dan menghentikan ucapanku. Kutermenung dalam pelukan Ibu memikirkan apa sebenarnya yang telah terjadi. Kenapa Ibu berkata demikian padahal tadi aku melihat Ayah di jendela pesawat bersama para bidadari. Astagfirullah aku telah hilaf. Ternyata tadi aku tertidur dan bermimpi melihat Ayah. Tapi apa maksud dari semua ini. Kenapa Ayah pergi menjauhiku bersama para bidadari kahyangan dan kenapa Ibu menghalangiku hingga tanganku terluka. Aku yakin ini bukan hanya sekedar mimpi biasa. Mimpi ini pasti mengandung makna yang dalam. Kutermenung dengan seribu pertanyaan membingungkan.
Waktu menunjukan pukul delapan pagi. Sang mentari pagi telah menampakan wujud aslinya. Lalu terdengar suara pengumuman dari pramugari bahwa pesawat akan mendarat tiga puluh menit lagi. Tiba-tiba handphone ibu berbunyi sebuah SMS masuk. Dengan cepat ibu membukanya dan membaca SMS itu. Ternyata itu SMS dari kakek ibu danmemberi kabar bahwa mereka siap menerima kami untuk tinggal di rumah mereka. Alhamdulillah, ternyata Allah selalu memberi jalan keluar bagi setiap hambanya yang berserah diri melalui jalan yang tidak disangka-sangka.
Pagi ini terasa begitu cerah. Detik demi detik kujalani dengan penuh optimis untuk menggapai hari esok yang lebih cerah. Walaupun masih ada masalah lain yang terus mengganjal dalan pikiranku yaitu kemanakah harus kukebumikan jenazah ayah?. Namun kuselalu optimis dan berdoa bahwa Allah pasti sedang menyiapkan yang lain dan terbaik untukku. Waktu nenunjukan pukul delapan lewat dua puluh menit. Pesawat akan segera take off di bendara soekarno hatta. Getaran demi getaran kecil selalu bersama dan memancing andrenalinku. Akhirnya pesawat telah take off dengan sempurna di bandara. Kulangsung turun dari pesawat bersama ibu dan mencari kendaraan yang saip untuk mengantar jenazah ayah ke rumah kakek. Tiba-tiba hanphone ibu kembali berbunyi dan sebuah panggilan dari kakek masuk. Ternyata mereka telah menyiapakan sebuah ambulan di depan pintu masuk bendara. Ibu langsung menbawa ayah ke rumah kakek dan menguburkan jenazah ayah di liang lahat yang telah di sediakan kakek. Dan semua urusan masalah ayah, kakek yang megurusi, dari mulai mengkafani hingga tahlilan seminggu lamanya. Semua dibiayai oleh kakek dan nenek. Kini semua urusan yang menyangkut ayah telah selesai sudah.
Hari berganti hari dan minggupun berlalu. Kulanjutkan studiku di sebuah sekolah SMP 102 bilangan Jakarta timur. Kira-kira menghabiskan waktu lima belas menit dari rumahku. Kududuk di kelas dua satu. Entah kenapa aku di tempatkan di kelas itu. Yang ber-image bahwa setiap orang yang duduk di kelas itu mempunyai tingkat IQ yang lebih dari kelas-kelas lainnya. Namun semua itu kuterima apa adanya dan mungkin ini yang terbaik untukku. Hari senin adalah hari pertamaku masuk sekolah. Ku ikuti acara rutinan pagi yang sudah menjadi darah daging di seluruh sekolah negri Indonesia. Upacara senin pagi. Sebuah rutinitas yang memuakan pikiran dan membuang waktu secara percuma. Yang di isi oleh kekonyolan-kekonyolan warga sekolah. Mulai dari anak kelas satu yang bau kencur sampai kepala sekolah yang tua bangka, semua tidak ada bedanya. Tidak ada satupun yang mencerminkan bahwa mereka seorang yang berpendidikan. Mulai dari kehadiran hingga penutupan upacara tidak lain hanya di isi oleh sesuatu yang tidak nencerminkan pendidikan. Namun upacara ini tetap kujalani dengan penuh hidmat.
Teng…teng…teng bel berbunyi tiga kali menandakan upacara telah selesai di laksanakan. Kulihat sebuah jam dinding Quartz putih tertempel di sebuah belahan sekolah. Kedua jarumya telah membawaku pada pukul 07:45 WIB. Tanpa komando semua siswa berhamburan dan bertebaran meninggalkan lapangan upacara menuju kelas mereka masing-masing. Gemuruh suara teriakan dan obrolan tiap siswa bagaikan segerombolan pasukan perang Mongol ketika meyerbu benteng pertahanan pasukan Dzulkarnaen. Menggema ke seantero pelosok sekolah. Kulangkahkan kaki mengikuti aliran arus para siswa. Dengan harapan aku bisa menemukan kelas baruku. Melewati lorong-lorong sekolah yang haus cahaya dan lika-liku jalan tegel bak permaiana ular tangga. Membuat kaki memberikan sinyal-sinyal request untuk istirahat. Akhirnya kuberhenti di perempatan jalan yang menghubungkan empat penjuru sekolah. Kuterpaku dan bingung memilih jalan manakah yang harus ditempuh. Tiba-tiba kumelihat sebuah bangku nganggur dengan luas kira-kira 20 x 100 cm. Tanpa aba-aba yang pasti kedua kakiku berjalan dan menyuruhku duduk. Ah…. Kukeluarkan napas dalam-dalam dengan seluruh rasa penat yang bersembunyi di setiap pembuluh darah. Hembusan angin kemarau menyapa saraf-syaraf yang tegang, seakan memberikan semangat baru untuk melanjutkan perjuangan. Tapi kedua kakiku terasa membeku dan suli untuk diatur, bagai segerombolan masa yang menolak akan kenaikan BBM. Kutorehkan kepala ke kanan dan ke kiri mengharap malaikat datang menolongku. Dan ternyata malaikatku datang. Seseorang sedang berjalan mendekatiku. Namun kedua kakiku tetap protes untuk di gerakan. Akhirnya kuhanya bisa menungu dan memperhatikan malaikatku datang mendekat. Tetapi semakin dekat dan semakin lekat kuperhatikan. Ternyata dia bukan malaikat. Dia seorang bidadari yang diutus untuk menolongku. Parasnya begitu cantik dan mempesona sehingga mampu membuat andrenalinku bereaksi. Langkahnya begitu anggun dengan rambut panjang berderai menghiasi setiap sudut pandangan. Matanya yang bulat dihiasi dengan bulu mata yang lentik memotivasiku untuk menanyakan sesuatu. Ketika sang waktu membawaku dekat denganya. Ia memandangku dan memberikan senyuman manis dari bibir tipisnya. Kubalas senyumannya dengan bibirku walaupun tidak semanis dan setipis bibirnya. Kukerahkan seluruh kanuragan yang kupunya untuk nenanyakan kelas baruku.

" Maaf. Apakah anda tahu dimana kelas dua satu ?"
" Kelas dua satu berada di samping kantin sekolah. Memang ada perlu apa? Mungkin bisa saya bantu ?"
" Saya siswa baru di sini dan saya di tempatkan di kelas dua satu. Tetapi saya tidak tahu dinama kelas baruku itu ?"
" Kebetulan itu kelasku. Kalau begitu mari kita sama-sama ke kelas"

Ternyata dewi fortuna benar-benar berada bersamaku. Saat-saat yang kunantikan telah datang. Saat ketika aku ingin menanyakan banyak dan berbicang-bincang dengannya. Setelah lama kuberbincang. Ternyata dia orangnya asik diajak ngobrol dan itu salah satu sifat yang kusenangi dari setiap orang. Ah.. tak terasa kita sudah sampai di depan pintu kelas. Terliha sekilas pemandangan kelas yang ribut dan kurang tertib menghiasi panca indraku. Kumasuk kelas dengannya, tak lama kemudian sambutan sorakan hangat dari penghuni kelas menerjang. Terasa sangat memekakan telinga. Kulihat seorang ibu guru duduk manis melemparkan senyuman hangatnya kepadaku. Kudipanggil dan mendekatinya dan dia menanyakan tentang keberadaanku di sini. Akhirnya aku di suruh untuk memperkenalkan diri.
Detik berlalu dan bel pulangpun berbunyi. Kukemasi seluruh buku yang tadi kubawa. Tiba- tiba dia datang lagi dan mengajaku pulang. Ah… suatu kesempatan yang sangat aku tunggu- tunggu. Tanpa pikir panjang aku langsung menyambut ajakanya. Dijalan aku banyak ngomong dengannya membicarakan banyak hal. Tapi satu informasi yang paling penting, ternyata namanya Dian. dia tinggal di daerah komplek Cibiru kira- kira 15 menit dari rumahku.

FANA

FANA


Sutu ketika di sebuah negri nan jauh di sana. Hiduplah seorang raja yang dzholim.- sebut saja namanya Fulan -. Ia memiliki kekuasaan yang amat penuh atas negrinya. Segala kebijakan yang terjadi di negeri itu tak luput dari kedua tangannya. Semua asset Negara ia gunakan untuk berfoya-foya dan menyobongkan diri kepada raja-raja di sekitar. Tenaga rakyatnya ia kuras tanpa henti. Pagi mereka pergi bercocok tanam dan malam mereka di tugasi membangun Negara. Dari mulai anak kecil hingga nenek-nenek yang hampir mati pun ia pekerjakan. Tak ada satu pun rakyat negri itu yang merasa bahagia atas kebijaksanaanya.
Hingga suatu hari sang raja mengadakan sebuah pesta besar-besaran untuk menyambut hari kelahirannya. Semua rakyatnya ia kerahkan untuk mempersiapkan pesta. Ia mengundang semua raja-raja tetangga dan para petingginya. Semua kekayaan dan asset Negara ia keluarkan demi kesuksesan pesta ini. Barang-barang pusaka Negara dan barang bersejarah dunia ia keluarkan memenuhi istana. Dalam sekejap keadaan istana menjadi megah dan indah. Ia berencana akan memperlihatkan kekayaan dan kemegahan dirinya akan raja-raja lain. Tak ada satu pun tamu undangan dari kalangan menengah apalagi kalangan bawah. semua telah di atur sedemikian rupa dan seselektif mungkin.
Lalu pesta termegeh dalam sejarah negri itu terjadi. Seluruh istana yang megah ramai di kunjungi para tamu undangan. Satu-persatu raja dari negri tetangga dan para petingginya datang silih berganti. Memasuki istana raja dan dilanjutkan ke ruang pertemuan yang telah di persiapkan. Mereka terkesima dengan kemegahan isi istana. Barang-barang pusaka dan sejarah dunia telah membuat mulut mereka berwah-wah. Sang raja tiram hanya duduk sombong di atas singgasananya. Ia tersenyum simpul pada setiap raja yang kagum atas kekayaan dan kemegahan istananya. Setelah para tamu berkumpul di ruang yang telah di persiapkan. Sang raja mulai berpidato di depan para undangannya. Dalam pidatonya ia menjelaskan bahwa semua kekayaan ini adalah hasil jerih payahnya selama bertahun-tahun. Ia mengatakan bahwa dengan kekayaan ini hidupnya akan kekal. Semua emas, perak, sampai berlian yang bergunung-gunung akan membahagiakan sepanjang hidupnya. Mendengar pidato sang raja, para undangan terkesima di buatnya.
Namun di samping itu. Di luar istana seorang pengemis datang dengan pakaian compang-camping. Ia mengetuk pintu istana yang tinggi dan megah. Tak lama kemudian beberapa pelayan istana datang membukakan pintu. Mereka terkejut akan kedatangan sang pengemis. Setahu mereka, sang raja tidak mungkin mengundang pengemis compang-camping dalam pesta sebesar ini. Pengemis ini ingin bertemu dengan sang raja karena ada urusan penting yang harus di sampaikan. Para pelayan itu menemui raja mereka dan menyampaikan pesan itu. Mendengar pesan dari para pelayan bahwa ada pengemis yang berani datang menemuinya di saat pesta sebesar ini. Sang raja marah besar dan menyuruh pengemis itu pergi. Kalau masih tidak mau pergi, hukum dia atau kalau perlu penggal kepalanya karena telah berbuat lancang kepada raja. Mendengar perintah dari sang raja pelayan itu langsung menyuruh sang pengemis pergi. Tapi pengemis ini memaksa ingin bertemu dengan sang raja. Dan keributan kecil pun terjadi di pintu istana. Setelah beberapa saat kemudian sang pengemis itu mengaku bahwa dirinya bukan pengemis biasa, ia seorang malaikat maut yang di utus Tuhan untuk mencabut nyawa sang raja. Sontak para pelayan itu terdiam, sekujur tubuhnya bergetar merinding setengah mati. Dengan cepat mereka menemui raja untuk yang kedua kalinya. Namun sang raja tetap tidak percaya karena ia yakin tidak akan mati. Tetapi sebelum mulut sang raja berbicara. Pengemis itu tiba-tiba muncul tepat di depan wajahnya. Sang raja terkejut melihat pengemis itu muncul tiba-tiba. Ia langsung menyuruh para pengawalnya untuk mengusir pengemis itu. namun dengan tenang pengemis itu menjawab.

" Tak ada gunanya kau menyuruh para pengawalmu untuk mengusirku. Tidak ada yang dapat melihat wujudku di sini selain kedua bola matamu."
" Lalu siapa kamu. berani-beraninya kau mengganggu pesta ulang tahunku ?
"Aku adalah utusan Tuhanmu. Tugasku adalah melaksanakan apa yang telah di perintahkan Tuhanku. "

Tiba-tiba tubuh sang raja bergetar. Wajahnya yang geram berubah menjadi pucat pasi. Keringat dingin mengucur dari pori-porinya membasahi jubah yang dia agung-agungkan. Dengan bergetar di berkata.

" Lalu apa maumu mendatangiku ?"
" Aku mendapatkan perintah untuk mencabut nyawamu."
" Jangan….jangan….. tolong jangan kau cabut nyawaku. Silahkan kau ambil seluruh harta kekayaanku. Tapi aku mohon jangan kau ambil nyawaku."
" Percuma kau memohon untuk di tangguhkan atas kenyataan ini wahai penguasa dzolim. Kini tak ada lagi yang dapat menolongmu. Emas dan perak yang melimpah, berlian yang menggunung. tak ada satu pun yang bisa kau ambil dan menemanimu di dalam kubur kelak. Sekarang telah tiba waktuku untuk menjemputmu ke liang lahat."

Sang raja pun terkapar jatuh tersungkur di depan para tamu undangan. Ia tengah merasakan 360 sabetan pedang sang malaikat maut. Badannya bergetar dari ujung kaki hingga ubun-ubun seiring hilangnya ruh kehidupan. Ya…. Sang penguasa dzolim itu telah pergi menghadap Tuhan Sang Penguasa Alam untuk mempertanggung jawabkan atas semua yang telah di kerjakannya.